Kalkulator HPP (Harga Pokok Penjualan) membantu pemilik usaha menghitung biaya produksi atau pengadaan barang.
Mendukung dua mode: HPP Produksi (manufaktur) dengan bahan baku, tenaga kerja, dan overhead, serta HPP Dagang dengan persediaan dan pembelian. Dilengkapi analisis margin kotor dan markup.
Informasi kalkulator
๐ Cara menggunakan kalkulator ini
- Pilih mode: HPP Produksi (untuk usaha manufaktur/produk olahan) atau HPP Dagang (untuk reseller/distributor).
- Untuk HPP Produksi: masukkan biaya bahan baku (langsung), tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik.
- Untuk HPP Dagang: masukkan persediaan awal, pembelian, biaya pengiriman, lalu persediaan akhir.
- Masukkan jumlah unit yang diproduksi/dijual untuk mendapatkan HPP per unit.
- Opsional: masukkan harga jual untuk melihat margin kotor dan markup otomatis.
- Klik Hitung untuk melihat HPP total, HPP per unit, gross profit margin, dan markup percentage.
- Tip: pisahkan biaya langsung dan tidak langsung secara konsisten agar perbandingan periode akurat.
๐งฎ Harga Pokok Penjualan (Cost of Goods Sold)
HPP Dagang: HPP = Persediaan Awal + Pembelian Bersih - Persediaan Akhir. HPP Produksi: HPP = Bahan Baku Terpakai + Tenaga Kerja Langsung + Overhead Pabrik + Persediaan Awal WIP - Persediaan Akhir WIP. HPP per unit = HPP / Jumlah Unit. Markup = (Harga Jual - HPP) / HPP x 100%. Margin Kotor = (Harga Jual - HPP) / Harga Jual x 100%.
- Bahan Baku Terpakai = Persediaan Awal + Pembelian - Persediaan Akhir Bahan Baku
- Overhead Pabrik = sewa, listrik, penyusutan mesin, gaji supervisor pabrik
- WIP = Work in Process (barang setengah jadi)
- Pembelian Bersih = Pembelian + Ongkos Kirim - Retur - Potongan Pembelian
Standar akuntansi PSAK 14 mengatur persediaan menggunakan metode FIFO atau Rata-rata Tertimbang (LIFO sudah tidak diperbolehkan).
๐ก Contoh: Menghitung HPP usaha keripik kemasan
Diketahui:- Bahan baku terpakai: Rp 5.000.000 (singkong, minyak, bumbu)
- Tenaga kerja langsung: Rp 2.000.000 (2 pekerja)
- Overhead pabrik: Rp 1.500.000 (listrik, gas, sewa)
- Jumlah produksi: 1.000 bungkus
- Harga jual per bungkus: Rp 12.000
Langkah:- HPP total = 5.000.000 + 2.000.000 + 1.500.000 = Rp 8.500.000.
- HPP per unit = Rp 8.500.000 / 1.000 = Rp 8.500/bungkus.
- Margin per unit = Rp 12.000 - Rp 8.500 = Rp 3.500.
- Margin kotor = 3.500 / 12.000 = 29,2%.
- Markup = 3.500 / 8.500 = 41,2%.
- Laba kotor bulanan = 1.000 x Rp 3.500 = Rp 3.500.000.
Hasil: HPP Rp 8.500/bungkus dengan margin kotor 29,2% dan markup 41,2%. Laba kotor bulanan Rp 3,5 juta sebelum biaya operasional (marketing, sewa toko, dll).
โ Pertanyaan yang sering diajukan
Apa beda HPP dan biaya operasional?
HPP (Cost of Goods Sold) mencakup biaya langsung memproduksi atau membeli barang yang dijual: bahan baku, tenaga kerja produksi, overhead pabrik. Biaya operasional adalah biaya menjalankan bisnis di luar produksi: gaji marketing, sewa kantor, iklan, listrik kantor, transportasi sales. Laba kotor = Penjualan - HPP; laba operasional = Laba Kotor - Biaya Operasional.
Berapa markup yang sehat untuk UMKM?
Tergantung sektor: F&B umumnya 200-300% markup (margin 67-75%), retail fesyen 100-200% (margin 50-67%), elektronik 20-40% (margin 17-29%), dan grosir 10-30%. Yang penting bukan markup tertinggi, melainkan markup yang menutup HPP + biaya operasional + target laba bersih + cadangan risiko. Patokan UMKM Indonesia: net margin 10-25%.
Bagaimana cara menentukan harga jual dari HPP?
Rumus dasar: Harga Jual = HPP x (1 + Markup) atau Harga Jual = HPP / (1 - Margin). Misal HPP Rp 10.000 dan target margin 40%: Harga Jual = 10.000 / 0,6 = Rp 16.667. Selain rumus, perhatikan harga kompetitor, persepsi nilai pelanggan, dan strategi positioning (premium vs ekonomis).
Apa itu metode FIFO dan rata-rata tertimbang?
FIFO (First In First Out) mengasumsikan barang pertama masuk dijual lebih dulu, sehingga persediaan akhir bernilai harga terbaru. Rata-rata tertimbang menghitung harga rata-rata semua persediaan. PSAK 14 mengizinkan keduanya tetapi melarang LIFO (Last In First Out). FIFO lebih cocok saat harga naik karena laba terlihat lebih besar; rata-rata stabil untuk volatilitas harga.
Apakah biaya pengiriman masuk HPP?
Biaya pengiriman masuk (freight in) saat membeli bahan baku atau barang dagangan masuk HPP karena merupakan bagian dari biaya perolehan. Biaya pengiriman keluar (freight out) saat mengirim ke pelanggan adalah biaya operasional/distribusi, bukan HPP. Pisahkan keduanya saat pencatatan agar laba kotor akurat dan kebijakan pajak konsisten dengan PSAK 14.
๐ Sumber & referensi
Terakhir diperbarui: 11 Mei 2026