๐Ÿ‘ถ

Kalkulator Stunting Anak

Cek risiko stunting anak berdasarkan tinggi badan, usia, dan jenis kelamin sesuai standar WHO.

KESEHATAN

Kalkulator Stunting membantu orang tua mengecek apakah tinggi badan anak sesuai standar pertumbuhan WHO.

Membandingkan tinggi badan anak dengan median dan batas -2 SD (Standard Deviasi) berdasarkan usia dan jenis kelamin. Anak di bawah -2 SD tergolong stunting, dan di bawah -3 SD tergolong severely stunted. Mendukung usia 0-19 tahun.

Disklaimer: Kalkulator ini untuk skrining awal. Diagnosis stunting resmi harus dilakukan oleh tenaga kesehatan dengan pengukuran antropometri yang standar. .

Cek Risiko Stunting Anak

Cek apakah tinggi badan anak sesuai standar WHO berdasarkan usia dan jenis kelamin. Deteksi dini stunting untuk tumbuh kembang optimal.

Anak <2 tahun: ukur panjang badan (berbaring). Anak โ‰ฅ2 tahun: ukur tinggi badan (berdiri).

Tentang Stunting

Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak akibat kekurangan gizi kronis, terutama dalam 1.000 hari pertama kehidupan (sejak kehamilan hingga usia 2 tahun).

Kriteria WHO: Anak dikatakan stunting jika tinggi badan menurut usia (TB/U) berada di bawah -2 Standard Deviasi (SD) dari median standar pertumbuhan WHO.

Dampak stunting: Gangguan perkembangan otak, daya tahan tubuh rendah, risiko penyakit kronis saat dewasa, dan potensi kerugian ekonomi.

Pencegahan: Pemenuhan gizi ibu hamil dan menyusui, ASI eksklusif 6 bulan, MPASI bergizi (terutama protein hewani), imunisasi lengkap, sanitasi bersih, dan pemantauan rutin di Posyandu.

Informasi kalkulator

Cara menggunakan kalkulator ini

  1. Pilih jenis kelamin anak (laki-laki atau perempuan) karena kurva pertumbuhan WHO berbeda untuk masing-masing.
  2. Masukkan usia anak dalam bulan (0-228 bulan / 0-19 tahun). Hitung dari tanggal lahir hingga tanggal pengukuran.
  3. Masukkan tinggi badan (TB) anak dalam cm. Untuk anak di bawah 2 tahun ukur panjang badan terlentang; di atas 2 tahun ukur berdiri.
  4. Klik Hitung untuk melihat nilai Z-score TB/U (Tinggi menurut Umur) dan kategori status gizinya.
  5. Perhatikan klasifikasi: normal (>= -2 SD), stunting (< -2 SD), severely stunted (< -3 SD).
  6. Jika hasil menunjukkan stunting, konsultasikan ke Posyandu, Puskesmas, atau dokter anak untuk intervensi gizi spesifik dan sensitif.

Z-score Tinggi Badan menurut Umur (TB/U) WHO

Z = (TB_anak - Median_referensi) / SD_referensi
  • TB_anak = tinggi/panjang badan anak (cm)
  • Median_referensi = median TB pada usia & jenis kelamin sesuai standar WHO 2006/2007
  • SD_referensi = nilai 1 standar deviasi dari median referensi WHO

Klasifikasi Permenkes 2/2020: Normal -2 SD s.d. +3 SD; Pendek (stunted) -3 SD s.d. <-2 SD; Sangat pendek (severely stunted) <-3 SD; Tinggi >+3 SD.

Contoh: Anak laki-laki usia 24 bulan, TB 80 cm

Diketahui:
  • Jenis kelamin = Laki-laki
  • Usia = 24 bulan
  • Tinggi badan = 80 cm
  • Median WHO untuk 24 bulan laki-laki = 87,1 cm; 1 SD = 3,1 cm
Langkah:
  1. Hitung selisih: 80 - 87,1 = -7,1 cm
  2. Bagi dengan SD: -7,1 / 3,1 = -2,29
  3. Z-score = -2,29 SD
  4. Karena Z < -2 SD dan masih > -3 SD, anak masuk kategori Pendek (stunted)

Hasil: Status gizi: STUNTED (-2,29 SD). Perlu evaluasi pola makan, riwayat infeksi berulang, dan pemberian Pemberian Makanan Tambahan (PMT) sesuai panduan Kemenkes.

Pertanyaan yang sering diajukan

Apa beda stunting dengan gizi buruk?
Stunting adalah kondisi gagal tumbuh tinggi badan (kurus pendek kronis) akibat kekurangan gizi jangka panjang, diukur dengan indikator TB/U. Gizi buruk akut diukur dengan BB/TB (berat menurut tinggi) dan menunjukkan kekurangan gizi akut. Stunting bersifat permanen jika tidak dikoreksi sebelum usia 2 tahun, sementara gizi buruk akut bisa pulih lebih cepat dengan terapi gizi. Keduanya berbeda namun bisa terjadi bersamaan pada anak yang sama.
Berapa prevalensi stunting di Indonesia saat ini?
Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 yang dirilis Kemenkes RI, prevalensi stunting nasional sebesar 21,5%, turun dari 24,4% pada 2021 (SSGI). Target RPJMN adalah menurunkan stunting menjadi 14% pada 2024. Stunting tertinggi masih ditemukan di provinsi-provinsi timur Indonesia. Penurunan dilakukan lewat intervensi spesifik (gizi langsung) dan sensitif (sanitasi, air bersih, edukasi).
Apakah stunting bisa disembuhkan?
Stunting yang terdeteksi sebelum usia 2 tahun (1.000 Hari Pertama Kehidupan / HPK) masih bisa diperbaiki dengan intervensi gizi adekuat. Setelah usia 2 tahun, dampak pada tinggi badan akhir dan perkembangan kognitif cenderung permanen, walaupun masih bisa dioptimalkan dengan nutrisi seimbang. Karena itu deteksi dini di Posyandu setiap bulan sangat penting. Fokus pencegahan adalah ibu hamil dan bayi 0-24 bulan.
Apa penyebab utama stunting?
Penyebab langsung adalah asupan gizi kurang (terutama protein hewani, zat besi, zinc) dan infeksi berulang (diare, ISPA). Penyebab tidak langsung mencakup pola asuh tidak optimal, sanitasi buruk, akses air bersih terbatas, dan rendahnya layanan kesehatan ibu-anak. Faktor risiko lain meliputi BBLR, ibu hamil KEK, ASI tidak eksklusif, dan MP-ASI yang tidak adekuat. Stunting adalah masalah multifaktor.
Kapan sebaiknya pengukuran TB/U dilakukan?
Pengukuran rutin dilakukan setiap bulan di Posyandu untuk balita 0-59 bulan sebagai bagian dari pemantauan pertumbuhan. Hasil dicatat di Buku KIA dan diplot pada grafik pertumbuhan WHO. Untuk anak sekolah, pengukuran dilakukan minimal setahun sekali via UKS. Jika ditemukan tanda pertumbuhan datar (faltering) selama 2 bulan berturut-turut, segera rujuk ke Puskesmas.

Terakhir diperbarui: 11 Mei 2026