Kalkulator EV vs Mobil Bensin

Bandingkan biaya operasional EV vs mobil bensin: TCO 5 tahun, breakeven, emisi CO₂, dan kenyamanan charging vs isi BBM.

LIFESTYLE

Kalkulator perbandingan total cost of ownership EV vs mobil bensin untuk membantu keputusan pembelian kendaraan.

Empat tab: biaya per bulan (listrik vs BBM), TCO 5 tahun + breakeven point, emisi CO₂ + ekuivalen pohon, dan kenyamanan charging vs isi BBM.

Disklaimer: Asumsi tarif listrik PLN dan harga BBM saat ini. Sesuaikan dengan kondisi aktual di daerah Anda. .

Kalkulator EV vs Mobil Bensin 2026

Bandingkan biaya, total kepemilikan, emisi CO2, dan kenyamanan pengisian antara mobil listrik (EV) dan mobil bensin. Cek kapan EV impas (breakeven) dan berapa hemat per bulan.

Hitung biaya energi bulanan EV (listrik) vs mobil bensin (BBM) berdasarkan jarak tempuh harian Anda.

Hasil bersifat estimasi. Tarif listrik PLN, harga BBM Pertamina, dan harga mobil dapat berubah sewaktu-waktu. Faktor emisi listrik PLN ~0,85 kg CO2/kWh (rata-rata 2024). Konsultasikan dealer untuk harga resmi dan biaya kepemilikan aktual.

Informasi kalkulator

Cara menggunakan kalkulator ini

  1. Pilih tab Biaya per Bulan lalu masukkan kilometer per bulan, konsumsi EV (kWh/100km, umumnya 15-20), konsumsi mobil bensin (km/liter), tarif listrik (Rp/kWh) dan harga BBM (Rp/liter).
  2. Kalkulator membandingkan biaya energi bulanan EV vs bensin; selisih biasanya 60-75% lebih murah untuk EV.
  3. Tab TCO 5 Tahun: input harga beli EV, harga mobil bensin sekelas, biaya pajak tahunan, asuransi, dan biaya servis - dapatkan total ownership cost dan breakeven point.
  4. Tab Emisi CO2: kalkulator hitung emisi tahunan kedua kendaraan; EV pakai 0.85 kg CO2/kWh (PLN average) vs 2.3 kg CO2/liter bensin, lalu konversi ke ekuivalen jumlah pohon.
  5. Tab Kenyamanan Charging vs Isi BBM: input frekuensi perjalanan luar kota dan akses charging di rumah; kalkulator memberi skor kecocokan EV untuk profil Anda.
  6. Tips: untuk akurasi, pakai data konsumsi real (bukan klaim pabrik) - biasanya 15-20% lebih boros di kondisi nyata.

Total Cost of Ownership dan Breakeven Analysis

TCO = Harga_beli + (Biaya_Energi + Servis + Pajak + Asuransi) x Tahun - Nilai_Resale; Breakeven_Bulan = (Harga_EV - Harga_Bensin) / (Biaya_Bensin_Bulan - Biaya_EV_Bulan)
  • Harga_beli = harga on-the-road termasuk pajak (Rp)
  • Biaya_Energi_EV = (km/bulan x kWh_per_100km / 100) x Tarif_kWh
  • Biaya_Energi_Bensin = (km/bulan / km_per_liter) x Harga_BBM
  • Servis EV: ~Rp 500rb-1jt/tahun (lebih sedikit dari ICE Rp 2-4jt/tahun)
  • Pajak EV: diskon BBN-KB 0% + PKB 10% dari tarif normal (Permendagri 6/2023)

Tarif listrik PLN rumah tangga R-1 1300 VA Rp 1.444/kWh, golongan tarif khusus EV (L) Rp 1.700/kWh untuk SPKLU. EV dengan home charging jauh lebih murah dibanding fast charging publik. Breakeven point Indonesia umumnya 3-5 tahun karena selisih harga awal EV vs ICE Rp 100-300 juta.

Contoh: Wuling Air ev Long Range vs Toyota Calya, pakai 1.500 km/bulan

Diketahui:
  • Wuling Air ev LR: Rp 295 juta, konsumsi 13 kWh/100km
  • Toyota Calya 1.2 G AT: Rp 195 juta, konsumsi 16 km/liter
  • Tarif listrik R-1: Rp 1.444/kWh, BBM Pertalite Rp 10.000/liter
  • Pakai 1.500 km/bulan = 18.000 km/tahun
Langkah:
  1. Biaya EV per bulan = (1.500 x 13 / 100) x 1.444 = 195 kWh x 1.444 = Rp 281.580
  2. Biaya Calya per bulan = (1.500 / 16) x 10.000 = 93.75 liter x 10.000 = Rp 937.500
  3. Selisih biaya energi = Rp 655.920/bulan (70% lebih murah)
  4. Selisih harga awal = 295 - 195 = Rp 100 juta
  5. Breakeven energi = 100.000.000 / 655.920 = 152 bulan = 12.7 tahun (lama!)
  6. Tambah servis: EV Rp 500rb/tahun, Calya Rp 2.5jt/tahun = saving Rp 2jt/tahun
  7. Breakeven dengan servis = 100 juta / (655.920 x 12 + 2.000.000) = 10.04 tahun

Hasil: Breakeven ~10 tahun. EV lebih murah operasional, tapi premi harga awal besar; pilih EV jika km tinggi (>2.500/bulan) atau peduli lingkungan.

Pertanyaan yang sering diajukan

Apakah EV benar-benar lebih hemat di Indonesia?
Biaya energi ya, jauh lebih hemat 60-75%. Tapi premi harga awal masih tinggi Rp 100-300 juta vs mobil bensin sekelas. Breakeven 5-12 tahun tergantung intensitas pakai. Untuk pengguna 2.500+ km/bulan (commuter Jakarta-Bekasi/Tangerang), EV lebih cepat balik modal. Insentif pemerintah (PPN DTP 1%, BBN-KB 0%) membantu mengurangi premi.
Bagaimana dengan baterai EV yang katanya cepat rusak?
Garansi baterai mobil EV 8 tahun atau 160.000 km (BYD, Hyundai, Wuling) bahkan ada yang lifetime (Tesla untuk early adopters). Degradasi normal 2-3% per tahun, jadi setelah 8 tahun masih 75-80% kapasitas. Penggantian baterai EV mahal Rp 100-200 juta, tapi di Indonesia hampir tidak ada kasus baterai mati total sampai garansi habis (data Wuling Air ev sejak 2022).
Apakah ada cukup SPKLU di Indonesia?
Per akhir 2024, PLN melaporkan 1.582 unit SPKLU di 1.131 lokasi se-Indonesia, terkonsentrasi di Jawa-Bali (75%). Aplikasi PLN Mobile menampilkan peta SPKLU realtime. Untuk pengguna harian dengan jarak <100 km/hari, home charging 7-22 kWh sudah cukup; SPKLU hanya untuk perjalanan jauh. Pemilik EV umumnya >80% charging di rumah.
EV ramah lingkungan padahal listrik PLN masih batu bara?
Tetap lebih bersih meski listrik dari batu bara. Emisi tank-to-wheel EV pakai listrik PLN ~120 g CO2/km vs mobil bensin 180-220 g CO2/km - karena efisiensi elektromotor 90% vs ICE 30%. Saat grid PLN beralih ke EBT (target 23% di 2025, 31% di 2050), emisi EV menurun otomatis tanpa ganti mobil. Mobil bensin akan selalu emisi sama.
Resale value EV bagaimana?
Resale value EV Indonesia masih tertekan: depresiasi tahun pertama 25-35% (vs mobil bensin 15-20%) karena pasar bekas EV belum matang dan kekhawatiran baterai. Wuling Air ev tahun 2023 yang baru Rp 245 juta sekarang Rp 160-180 juta (turun 30-35%). Brand premium (BYD Atto 3, Hyundai Ioniq 5) resale lebih stabil. Jangka panjang resale akan membaik seiring populasi EV tumbuh.

Terakhir diperbarui: 11 Mei 2026