Simulasi kupon dan return investasi Surat Berharga Negara (SBN) setelah pajak.
Tiga tab: simulasi kupon SBN (ORI, SR, ST, SBR) dengan jadwal pembayaran, perbandingan dengan deposito, dan hitung nominal SBN untuk target passive income bulanan.
Disklaimer: Simulasi berdasarkan kupon tetap. Untuk SBN dengan kupon mengambang, yield aktual dapat berbeda. .
Informasi kalkulator
๐ Cara menggunakan kalkulator ini
- Pilih jenis SBN: ORI (Obligasi Ritel), SR (Sukuk Ritel), ST (Sukuk Tabungan), atau SBR (Saving Bond Ritel).
- Masukkan nominal investasi (kelipatan Rp 1 juta, minimum Rp 1 juta dan maksimum Rp 5 miliar per seri).
- Pilih tingkat kupon (mis. 6,5% p.a. floating with floor untuk ST atau fixed rate untuk ORI/SR).
- Atur tenor: ORI/SR 2-3 tahun (tradable), ST/SBR 2 tahun (non-tradable dengan early redemption).
- Sistem menghitung kupon bulanan setelah pajak final 10% (sesuai PP 91/2021, lebih rendah dari deposito 20%).
- Bandingkan dengan deposito di tab "Komparasi" atau hitung nominal yang dibutuhkan untuk target passive income.
๐งฎ Kupon Bersih SBN Ritel
Kupon_bulanan_bersih = (Nominal ร kupon_pa / 12) ร (1 - pajak_final)
- Nominal = jumlah investasi pokok (Rp)
- kupon_pa = tingkat kupon per tahun (%) sesuai memorandum seri
- pajak_final = 10% untuk SBN ritel (PP 91/2021), turun dari sebelumnya 15%
- Total return = (Kupon ร tenor_bulan) + nominal pada jatuh tempo
Kupon SBN dibayar bulanan setiap tanggal 10. Pajak final dipotong otomatis oleh midis.
๐ก Contoh: Investasi ORI025 Rp 50 Juta
Diketahui:- Nominal: Rp 50.000.000
- Kupon ORI025: 6,40% per tahun (fixed)
- Tenor: 3 tahun (36 bulan)
- Pajak final: 10%
Langkah:- Kupon kotor bulanan = 50.000.000 ร 6,40% / 12 = Rp 266.667
- Pajak per bulan = 266.667 ร 10% = Rp 26.667
- Kupon bersih bulanan = 266.667 - 26.667 = Rp 240.000
- Total kupon 36 bulan = 240.000 ร 36 = Rp 8.640.000
- Total return saat jatuh tempo = 50.000.000 + 8.640.000 = Rp 58.640.000
Hasil: Investor menerima Rp 240.000/bulan bersih dan total Rp 58,64 juta pada akhir tenor 3 tahun.
โ Pertanyaan yang sering diajukan
Apakah SBN dijamin pemerintah?
Ya, SBN dijamin penuh oleh negara berdasarkan UU No. 24 Tahun 2002 tentang Surat Utang Negara dan UU No. 19 Tahun 2008 tentang SBSN (Surat Berharga Syariah Negara). Pembayaran kupon dan pokok dianggarkan dalam APBN. Risiko default sangat rendah (rating Indonesia BBB stabil dari S&P 2024). SBN lebih aman daripada deposito karena tidak dibatasi penjaminan LPS Rp 2 miliar.
Apa beda ORI, SR, ST, dan SBR?
ORI (Obligasi Ritel) berbasis konvensional, kupon fixed, tradable di pasar sekunder. SR (Sukuk Ritel) berbasis syariah (akad ijarah/wakalah), fixed coupon, tradable. ST (Sukuk Tabungan) syariah, kupon floating with floor, non-tradable tapi ada early redemption tahun ke-1. SBR (Saving Bond Ritel) konvensional, kupon floating, non-tradable. Semua kupon dibayar bulanan.
Mengapa pajak SBN lebih rendah dari deposito?
PP No. 91 Tahun 2021 menurunkan pajak final bunga/diskonto SBN dari 15% menjadi 10%, sementara deposito masih 20%. Tujuannya menarik investor ritel ke pendanaan APBN dan mengurangi ketergantungan utang luar negeri. Insentif ini membuat kupon SBN setara dengan deposito 10-12% (jika pajak deposito disetarakan).
Apakah SBN bisa dijual sebelum jatuh tempo?
Tergantung jenis. ORI dan SR tradable di pasar sekunder lewat bank midis (Mandiri, BCA, BNI, dll); harga bisa di atas/bawah par (capital gain/loss). ST dan SBR non-tradable, tapi punya fitur early redemption maksimal 50% nominal di periode tertentu (biasanya bulan ke-13-15) tanpa penalti. Selain itu harus tunggu jatuh tempo.
Berapa minimal dan maksimal pembelian SBN ritel?
Minimum pembelian Rp 1 juta dan kelipatannya. Maksimum Rp 5 miliar per individu per seri untuk ORI/SR/ST/SBR. Cukup punya rekening bank dan NIK; pembelian online via 26+ midis yang ditunjuk Kemenkeu (bank besar, sekuritas, fintech seperti Bareksa, Bibit). Settlement T+1 dari penutupan masa penawaran.
๐ Sumber & referensi
Terakhir diperbarui: 11 Mei 2026