Kalkulator ARA & ARB Saham BEI menghitung batas harga Auto Reject Atas (ARA) dan Auto Reject Bawah (ARB) berdasarkan harga penutupan saham dan aturan fraksi harga OJK/BEI 2023.
Mendukung pasar reguler (±10%) dan pasar akselerasi (±35%). Dilengkapi simulasi untung/rugi jika saham menyentuh ARA atau ARB, dan proyeksi harga apabila saham mengalami ARA atau ARB berturut-turut hingga 5 hari.
Disklaimer: Bukan rekomendasi investasi. Gunakan hanya sebagai alat bantu analisis. Selalu lakukan riset mandiri sebelum mengambil keputusan investasi. .
Informasi kalkulator
📋 Cara menggunakan kalkulator ini
- Masukkan harga acuan saham (biasanya harga penutupan hari sebelumnya).
- Pilih jenis pasar: Reguler (batas ±10% sesuai SEOJK 13/2023) atau Akselerasi (±35%).
- Klik hitung untuk melihat batas Auto Reject Atas (ARA) dan Auto Reject Bawah (ARB).
- Lihat proyeksi harga jika saham ARA atau ARB berturut-turut 2-5 hari.
- Masukkan jumlah lot yang dimiliki untuk simulasi profit/loss saat ARA atau rugi saat ARB.
- Periksa fraksi harga yang berlaku di rentang harga acuan untuk validasi order.
🧮 Batas Auto Reject BEI (SEOJK 13/2023)
ARA = Harga Acuan × (1 + batas %); ARB = Harga Acuan × (1 - batas %)
- Pasar Reguler: batas ±10% untuk semua rentang harga
- Pasar Akselerasi: batas ±35% untuk saham baru IPO
- Harga Acuan = harga penutupan hari bursa sebelumnya
- Hasil dibulatkan ke fraksi harga: <Rp200 = Rp1, Rp200-499 = Rp2, Rp500-1.999 = Rp5, Rp2.000-4.999 = Rp10, ≥Rp5.000 = Rp25
- Saham harga ≤Rp50 tidak terkena auto reject
Aturan ini berlaku sejak 4 September 2023 menggantikan aturan asimetris 35%-7% saat pandemi.
💡 Contoh: Saham TLKM dengan harga acuan Rp 3.000 di pasar reguler
Diketahui:- Harga acuan = Rp 3.000
- Pasar Reguler, batas ±10%
- Fraksi harga di rentang Rp 2.000-4.999 = Rp 10
Langkah:- ARA = 3.000 × (1 + 10%) = 3.300, bulatkan ke fraksi Rp 10 = Rp 3.300
- ARB = 3.000 × (1 - 10%) = 2.700, bulatkan ke fraksi Rp 10 = Rp 2.700
- Jika ARA berturut-turut: Hari 1 = 3.300, Hari 2 = 3.630, Hari 3 = 3.990
- Jika ARB berturut-turut: Hari 1 = 2.700, Hari 2 = 2.430, Hari 3 = 2.190
- Punya 100 lot (10.000 lembar) di Rp 3.000, modal Rp 30 juta
- Profit ARA = (3.300 - 3.000) × 10.000 = Rp 3.000.000 (+10%)
Hasil: ARA di Rp 3.300, ARB di Rp 2.700. Pemilik 100 lot bisa untung Rp 3 juta jika ARA atau rugi Rp 3 juta jika ARB.
❓ Pertanyaan yang sering diajukan
Apa beda aturan auto reject lama (asimetris) dan baru (simetris)?
Aturan lama (2020-2023) bersifat asimetris untuk melindungi pasar saat pandemi: ARA 25-35% tapi ARB hanya 7%. Aturan baru SEOJK 13/2023 yang berlaku 4 September 2023 bersifat simetris ±10% untuk pasar reguler. Tujuannya mengembalikan keseimbangan pasar dan meningkatkan likuiditas. Pasar akselerasi (saham baru IPO 5 hari pertama) tetap ±35% untuk akomodasi price discovery.
Apa itu pasar akselerasi dan kapan berlaku?
Pasar akselerasi adalah pasar khusus untuk saham yang baru pertama kali tercatat di BEI (IPO) selama 5 hari bursa pertama. Batas auto reject diperlebar ±35% untuk memberi ruang price discovery sesuai permintaan-penawaran pasar. Setelah 5 hari, saham masuk ke pasar reguler dengan batas ±10%. Saham yang melakukan stock split, reverse split, atau corporate action signifikan juga bisa masuk pasar akselerasi sementara.
Mengapa saham tetap bisa naik/turun lebih dari 10% dalam sehari?
Beberapa kondisi memungkinkan saham bergerak di luar batas ±10%: saham di pasar akselerasi (±35%), saham harga ≤Rp50 yang tidak terkena auto reject, atau saham yang sudah ARA/ARB lalu BEI menerapkan suspension dan pembukaan kembali dengan harga acuan baru. Selain itu, perdagangan negosiasi (pasar tunai) memiliki aturan berbeda dari pasar reguler.
Apakah saham ARA/ARB pasti bisa dibeli/dijual?
Tidak. ARA/ARB hanya menetapkan batas harga, bukan jaminan eksekusi. Saat saham ARA, banyak antrian beli di harga tertinggi tapi sedikit yang jual - sulit dapat lot. Sebaliknya ARB, banyak antrian jual tapi sedikit pembeli - sulit lepas. Antrian first-in-first-out (FIFO), jadi yang order duluan dapat prioritas. Saham ARA/ARB berhari-hari sering tanda manipulasi pasar atau kabar fundamental signifikan.
Bagaimana cara memprediksi saham akan ARA?
Saham ARA biasanya didorong: berita fundamental positif (laba meningkat tajam, akuisisi, kontrak besar), aksi korporasi (stock split, dividen besar, right issue diskon), euforia sektoral (bansos memicu saham consumer), atau spekulasi market mover. Pola teknikal seperti breakout volume tinggi setelah konsolidasi juga indikator. Namun ARA pada saham gorengan (kapitalisasi kecil, fundamental lemah) berisiko jebakan: setelah ARA berhari-hari, sering diikuti ARB beruntun.
📚 Sumber & referensi
Terakhir diperbarui: 11 Mei 2026